Christmas Pudding: Ikon Kuliner Natal
Christmas pudding, yang dalam tradisi Inggris sering disebut plum
pudding, merupakan salah satu hidangan penutup paling khas dalam perayaan
Natal di Barat, khususnya di Britania Raya. Sejarah hidangan ini ada pada abad pertengahan
Inggris, ketika sebuah sajian bernama frumenty populer di kalangan
masyarakat. Frumenty adalah bubur gandum yang dimasak dalam stok daging
atau susu, kemudian diperkaya dengan anggur, rempah-rempah, dan kadang-kadang
daging rusa. Pada masa itu, rempah-rempah seperti kayu manis dan cengkih masih
dianggap bahan mewah, sehingga penggunaannya menunjukkan status sosial yang
relatif tinggi. Walaupun jauh dari bentuk pudding modern, frumenty
menjadi dasar penting yang menandai kecenderungan masyarakat Inggris untuk
menggabungkan unsur manis dan gurih dalam satu hidangan.
Seiring berjalannya waktu menuju abad ke-16 dan 17, perubahan ekonomi dan
meningkatnya ketersediaan gula serta buah-buahan kering dari koloni perdagangan
Inggris secara perlahan menggeser karakter hidangan ini. Bubur yang pada
awalnya encer secara bertahap mengalami transformasi menjadi adonan lebih
pekat, dengan proporsi daging yang semakin berkurang dan komposisi buah, lemak
hewani, gula, serta alkohol yang semakin dominan. Pada periode ini pula muncul
istilah plum pudding, meskipun “plum” dalam bahasa Inggris kuno merujuk
pada berbagai jenis buah kering.
Memasuki abad ke-18, bentuk puding dengan adonan kental yang dikukus selama
waktu yang lama hingga menghasilkan tekstur padat serta rasa yang kompleks.
Penyebutan minuman beralkohol seperti brandy atau rum dalam resep tidak hanya
bertujuan kuliner, tetapi juga untuk tujuan pengawetan, mengingat puding sering
dibuat jauh hari sebelum perayaan Natal.
Pada abad ke-19, khususnya pada masa kejayaan Kerajaan Inggris di bawah
Ratu Victoria, Christmas pudding mengukuhkan statusnya sebagai hidangan
seremonial. Keluarga kerajaan, terutama Pangeran Albert, memainkan peran
penting dalam mempopulerkan sejumlah tradisi Natal, termasuk penyajian pudding
sebagai puncak jamuan keluarga.
Pada abad ke-20, Christmas pudding mengalami beberapa adaptasi seiring ketersediaan
bahan. Walaupun metode pengukusan konvensional masih digunakan, muncul variasi
baru seperti steamed pudding instan, versi tanpa alkohol, hingga inovasi
yang menyesuaikan selera masyarakat global. Namun demikian, inti dari tradisi penggunaan
buah-buahan kering, rempah-rempah hangat, dan penyajian saat perjamuan Natal tetap
bertahan sebagai bagian integral dari identitas hidangan ini.