Gastronomy Molekuler Bidang Kuliner
Gastronomi molekuler merupakan cabang sains yang
mempelajari tentang transformasi fisikokimia berupa bahan yang dapat dimakan.
Beberapa ilmuan juga mendefinisikan gastronomi molekuler sebagai cabang
disiplin ilmu yang berhubungan dengan pengembangan, penciptaan, dan sifat
makanan yang biasa disiapkan dapur. Istilah gastronomy molekuler pertama muncul
tahun 1988 yang disampaikan oleh Nicholas Kurti seorang ahli fisika di
Hongaria, kemudian disusul oleh ahli fisika kimia dari French INRA yang bernama
Herve This pada tahun 1992. Tujuan cabang sains gastronomi molekuler adalah :
1) mengeksplorasi kuliner secara ilmiah dengan menerapkan teknik memasak baru
melalui penciptaan resep; 2) meningkatkan komponen artistik masakan; dan 3)
memberikan kepuasan pada pelanggan kuliner. Cabang ilmu gastronomi molekuler
sangat bermanfaat membantu chef dalam menciptakan menu yang kreatif,
inovatif, efektif dan efisien.
Keunggulan dari gastronomi molekuler yaitu menjadikan
makanan yang terlihat biasa menjadi lebih bernilai, misal makanan tradisional
disajikan menjadi menarik melalui tekstur, rasa, warna, dan tampilan baru.
Gastronomi molekuler mempunyai beberapa teknik dasar dengan melibatkan ilmu
fisika dan ilmu kimia di dalam pengolahan makanan. Teknik-teknik
dasar gastronomi molekuler adalah sebagai berikut:
1. Sous-Vide
yang biasa disebut vakum, dengan memasukkan daging atau sayuran ke dalam
plastik kedap udara kemudian direndam pada air yang suhunya sudah dikontrol. Alat
ini mampu mematangkan steak sesuai tingkat kematangan yang dinginkan sama
seperti tingkat kematangan saat chef memasak manual. Sous-vide mempermudah
chef untuk memasak efektif dan efisien.
2.
Flash
Frozen, dilakukan dengan
membekukan makanan dengan nitrogen cair. Penambahan nitrogen cair pada makanan
dapat diterapkan dengan cara membubuhkan ke permukaan makanan. Teknik dasar flash
frozen mempermudah es krim untuk segera beku sekaligus mempertahankan
tekstur halus pada es krim. Pembuatan es krim dengan flash frozen tidak
memerlukan waktu lama dan langsung bisa dinikmati.
3. Faux caviar, menggunakan teknik spherification yaitu cairan disimpan dalam
bentuk oleh membran gel tipis dan dinikmati sebagai zat padat. Teknik
spherification diperkenalkan pertama kali oleh El Bulli pada tahun 2003
dengan menjadikan cairan berbentuk jeli (gelification) dan berbentuk
bola-bola (sphere) saat direndam air. Proses pembentukan jeli terdapat
penambahan zat aditif natrium alginate dan garam kalsium.
4.
Deconstructed,
mendekorasi makanan di dalam piring dengan wujud yang berbeda dengan aslinya
sehingga memberikan pengalaman di dalam mulut. Pada satu hidangan (appetizer,
main course, dessert, soup, maupun beverage). Teknik ini adalah gabungan atau pengaplikasian dari
teknik dasar lainnya. Konsumen diberikan pengalaman baru dalam tampilan, warna,
rasa, dan tekstur makanan.
5.
Edible
paper atau bisa disebut
dengan kertas yang bisa dimakan. Terbuat dari pati kentang atau kedelai
kemudian dicetak dengan printer laser menggunakan tinta yang bisa dimakan.
Edible paper biasa digunakan pada lapisan party cake agar lebih
menarik, misalnya saja foto seseorang yang berulang tahun.
6. Powdered food, menggunakan senyawa tambahan yaitu maltodekstrin, zat seperti pati untuk
mengubah cairan minyak menjadi bubuk. Maltodextrin adalah gula
polisakarida diperoleh dari hidrolisis parsial (penguraian) jagung, gandum,
kentang, atau tepung tapioka. Pada bidang kuliner selain mengubah minyak
menjadi bubuk, maltodextrin menyerap bau minyak yang menyengat pada bahan
makanan asli misal daging, coklat, kemiri.
7. Foams,
teknik mengubah buah, sayur, daging, keju dan makanan lainnya
menggunakan zat penstabil makanan atau pengental menjadi buih. Penambahan soy
lecithin mampu membentuk buih pada cairan buah, sayuran, maupun cairan
bahan makanan dan makanan.
Daftar Pustaka
Winarno,
F.G & Winarno, Sergio Andino Ahnan. (2017). Gastronomi Molekuler. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Linden, Erik Van Der, et. al. (2008).
Molekuler Gastronomy: A Food Fad or an Interface for Science-Based Cooking?.
Food Biophysics, Vol 3, page
246-254. DOI
10.1007/s11483-008-9082-7.
Vega, Cesar & Ubbink, Job.
(2008). Molekuler Gastronomy: A Food Fad or Science Supporting Innovative
Cuisine?. Trends in Food Technology, Vol 19, page 372-382.
doi:10.1016/j.tifs.2008.01.006.