Bite of History: Baklava, Manisnya Mendunia
Baklava merupakan salah satu produk pastry klasik yang memiliki nilai historis, budaya, dan gastronomi yang dalam tradisi kuliner Timur Tengah dan kawasan Mediterania. Hidangan ini dikenal luas sebagai makanan penutup yang tersusun dari lapisan-lapisan tipis adonan filo (phyllo pastry), yang dipadukan dengan isian kacang serta siraman larutan gula atau madu. Secara etimologis dan historis, baklava diyakini berkembang pesat pada masa Kekaisaran Ottoman, meskipun beberapa literatur menyebutkan bahwa konsep awalnya telah ada sejak peradaban kuno di wilayah Mesopotamia. Pada masa Ottoman, baklava tidak hanya menjadi konsumsi masyarakat umum, tetapi juga memiliki keistimewaan di lingkungan istana sebagai sajian eksklusif bagi kalangan bangsawan. Tradisi penyajian baklava bahkan sempat menjadi bagian dari seremoni resmi, yang menunjukkan bahwa makanan ini memiliki dimensi sosial dan simbolik yang kuat. Seiring dengan ekspansi wilayah Ottoman, baklava menyebar ke berbagai negara seperti Turki, Yunani, Lebanon, Suriah, hingga kawasan Balkan, yang kemudian melahirkan variasi lokal dengan karakteristik bahan dan rasa yang beragam.
Baklava tersusun atas beberapa komponen utama, yaitu adonan filo, lemak (umumnya mentega atau butter), kacang-kacangan, serta sirup pemanis. Adonan filo dibuat sangat tipis hingga hampir transparan, kemudian disusun berlapis-lapis dengan setiap lapisan diolesi mentega untuk menghasilkan tekstur yang renyah dan berlapis setelah proses pemanggangan. Isian kacang yang digunakan dapat berupa pistachio, kenari, atau almond yang telah dicincang halus, yang memberikan rasa gurih serta tekstur kontras terhadap lapisan pastry. Setelah dipanggang hingga berwarna keemasan, baklava disiram dengan sirup gula yang sering kali diberi tambahan aroma seperti air mawar, air bunga jeruk, atau kayu manis, sehingga menghasilkan profil rasa yang lebih kompleks dan aromatik.